Murid Tanpa Masjid

Oleh: S.S Albany, M.Pd

Dosen STAI Muhammadiyah Klaten

 

Makin baik kehidupan agama di sekolah, makin terasing murid dari kegiatan agama kampung yang berpusat di masjid. Kadang kadang memang mereka mengikuti kegiatan masjid, tetapi kegiatan masjid yang pasif itu tidak efektif untuk membentuk kepribadian. Sekolah lebih menyenangkan, sebab mereka bergaul hanya dengan kelompok seumur mereka. Disitulah mereka berkembang (Kuntowijoyo, Muslim tanpa Masjid : 129)

Hakikat pendidikan adalah memanusiakan manusia, membuat manusia itu menjadi makhluk yang siap menjadi jati dirinya sebagai hamba dan khalifah di bumi. Misi ini dijalankan untuk mengamankan dan melestarikan generasi yang siap dalam menghadapi tantangan dunia dan siap meraih kebahagiaan akhirat. Prinsip inilah yang menjadikan pendidikan sebagai langkah nyata dalam memperbaiki kualitas peradaban dunia ini. Akankah peradaban dunia menjadi gemilang? Maka pendidikan yang berkualitas jawabanya. Menilik lebih jauh yang diutarakan oleh kuntowijoyo dalam muslim tanpa masjid, apakah bisa juga seorang murid dapat dikatakan murid tanpa masjid? Tapi memang nyatanya ada murid tanpa masjid.

Ada dua model murid tanpa masjid, pertama murid yang tidak berada dalam kondisi keberagamaan keluarga yang baik dan ia mendapatkan model sekolah yang tidak baik dalam pengembangan keagamaan. Maka yang terjadi adalah murid tersebut tidak bisa membayangkan bagaimana beragama yang baik dan akhirnya menjadi murid yang jarang beraktivitas di Masjid. Murid itupun tidak bisa menjalankan kehidupan beragama yang baik. Di situlah timbul murid tanpa masjid, menjadikan sekolah gagal dalam menjalankan hakikatnya sebagai pendidikan. Bukan lagi memanusiakan manusia namun hanya menjadikan ia bersifat manusia.

Kedua, murid yang berada dalam kondisi keberagamaan keluarga yang baik dan ia mendapatkan model sekolah yang sangat terlalu memaksakan dalam pengembangan agama. Maka yang terjadi adalah murid tersebut capek mendapatkan tuntutan dalam nilai keagamaan bahkan akhirnya ia menjadi murid yang tidak bergembira saat berada dalam pembelajaran keagamaan. Ia dibuat frustasi belajar agama di sekolah, maka ia pun capek untuk beraktivitas agama di lingkungan rumahnya. Di situlah timbul murid tanpa masjid, murid yang sudah frustasi dapat banyak tuntutan keagamaan di sekolah dan akhirnya acuh terhadap aktivitas keagamaan di lingkungan rumahnya yaitu masjid. Sikap ini menjadikan sekolah gagal dalam menjalankan hakikatnya sebagai pendidikan. Bukan lagi memanusiakan manusia namun memanfaatkan manusia.

Kenapa bisa model kedua ini menjadikan murid tanpa masjid? Karena sekolah tidak siap untuk melaksanakan pengembangan agama. Sekolah kalau memang ingin menjadikan dirinya menjadi sekolah unggulan tahfidz maka atur waktu agar ada waktu setor hafalan dan juga waktu istirahat. Yang terjadi justru menguras tenaga dan pikiran murid, hari ini harus setor tapi murid sudah lelah pelajaran seharian tanpa ada waktu tidur, dan kasus tersebut biasanya banyak terjadi di sekolah dasar unggulan tahfidz.

Sekolah kalau memang ingin menjadikan dirinya menjadi sekolah yang unggulan keagamaan. Ajari mereka apa itu masjid, sekarang ini seolah olah murid sudah diajari macam macam nilai keagamaan di sekolah namun lupa menggambarkan keindahan masjid, fungsi masjid, nilai keistimewaan masjid. Yang terjadi nanti mereka acuh terhadap keberadaan masjid, jangan hanya saat ramadhan saja mereka di minta tanda tangan imam tarawih.

Sekolah kalau memang ingin menjadikan dirinya menjadi sekolah yang unggulan keagamaan. Ajari murid arti ulama sehingga mereka tahu bagaimana memuliakan ulama, sehingga mereka tahu dengan siapa harus belajar agama. Sekarang ini seolah murid hanya diajari materi agama, tapi tidak pernah tahu makna keilmuan, bagaimana etika keteladanan seorang berilmu. Seolah mereka sudah menjadi orang yang tahu tentang agama hanya karena jam pelajaran agama sangat banyak. Bukan karena banyaknya bertanya dan berkonsultasi keagamaan dengan guru agama atau membaca buku agama atau banyaknya mengikuti pengajian di masjid atau mengaji dengan ulama. Kuntowijoyo menggambarkan seolah Guru Agama di sekolah lebih merupakan fungsi yang anonim tanpa ikatan yang konkrit, sama seperti seorang bayi yang mendapat susu dari botol dan tidak dari ASI (Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid : 130).

Marilah kita serius menangani masalah ini, jadikan nilai dan sistem pembelajaran keagamaan di sekolah dapat memberikan efek sosial murid dengan suka di masjid. Jadikan sekolah menjadi konsep keseimbangan dalam pengembangan keberagamaan murid saat mereka berada di lingkungan rumahnya yaitu masjid. Karena masjid adalah tempat pembentukan kualitas seorang muslim dalam mewujudkan peradaban yang baik. Pasti bisa kok! Yakin!