Mendownload Budi Pekerti, Mengcopy-paste Karakter: Mengkritisi Pembelajaran PAI-BP secara online (Bagian 2)

*Oleh: Slamet Hadi Riyanto

(Mahasiswa Prodi PAI STAI Muhammadiyah Klaten)

Meskipun pandemi sudah mulai berakhir, masih saja ada kekhawatiran akan kembali terjadi, dan tidak dapat dipastikan kapan benar-benar hilang/berakhir. Dengan keadaan seperti ini guru memiliki peranan penting dalam keberlangsungan pendidikan para siswa termasuk dalam pendidikan budi pekerti. Mendownload budi pekerti sebagaimana judul diatas tentu tidak diartikan seperti mendownload file dari internet, namun bagaimana peran guru dalam memberikan materi-materi budi pekerti yang dapat dilakukan oleh para siswanya meski dengan pembelajaran online. Sementara copy-paste karakter dapat dipahami bahwa perilaku-perilaku baik yang diperoleh dari pembelajaran online dapat dicontoh oleh siswa yang kemudian menjadi kebiasaan dalam kehidupannya.

Gadget Sahabat Baik

Langkah awal yang dapat dilakukan oleh guru, adalah memiliki pemahaman bahwa gadget adalah sahabat baik siswa. Selama ini guru dan orangtua memiliki pemahaman bahwa gadget dengan segala efek negatifnya tidak baik untuk anak-anak. Ada sebagian besar orangtua yang melarang sama sekali penggunaan gadget bagi anaknya, sebagian yang lain memberi kelonggaran penuh penggunaan gadget kepada anaknya. Padahal anak zaman ini tidak akan bisa lepas dengan gadget,
maka penggunaannya yang perlu diatur dan dikontrol dengan bijak oleh orangtua dan guru. Bersahabat dengan gadget dapat dilakukan dengan memberikan keleluasaan dalam menggunakan gadget sehingga anak nyaman dan orangtua dapat mengontrol penggunaannya.

Pendalaman Materi Budi Pekerti

Menurut penulis ada dua hal yang dapat dilakukan oleh guru dan orangtua dalam proses mendownload budi pekerti dan mengcopy-paste karakter. Yang pertama, pendalaman materi budi pekerti oleh siswa. Siswa jaman now sangat minim pengetahuan dan pemahaman filosofis budi pekerti. Mereka lahir di zaman di mana nilai-nilai budi pekerti luhur telah luntur tergerus oleh perkembangan teknologi yang menggiring mereka kepada kehidupan yang serba instan, berpikir pendek dan dangkal dalam pemaknaan. Hal ini diperparah dengan sikap apatis lingkungan yang lebih mengutamakan sikap individual.

Filosofi budi pekerti merupakan ketentuan-ketentuan yang menjadi pegangan seseorang dalam bersikap. Menurut hemat penulis, filosofi budi pekerti yang kuat dari seseorang bersumber pada dua hal, yaitu agama/kepercayaan dan budaya lokal. Agama dan kepercayaan memiliki pengaruh besar bagi seseorang. Semakin kuat religiusitas agama seseorang maka semakin kuat seseorang berpegang pada filosofi hidupnya. Dan jika diperhatikan anak-anak generasi saat ini semakin sedikit yang konsen terhadap ajaran agamanya. Inilah tugas besar para guru untuk memperkuat religiusitas dan keyakinan siswa terhadap Tuhan.

Sebagai contoh dalam keyakinan agama Islam, dengan adanya perintah sholat. Sholat sebagai doa dan penjagaan diri dari hal-hal perbuatan yang tidak baik. Dari pengamatan penulis, anak yang rajin melaksanakan shalat akan memiliki kecenderungan untuk memiliki sikap yang baik/akhlak mulia. Pada saat pembelajaran online, orangtua dan guru dapat bekerjasama dalam mengontrol pelaksanaan sholat siswa. Guru dapat membuat form pelaporan harian secara online untuk mengontrol pelaksanaan ibadah shalat siswa.

Sumber budi pekerti yang kedua adalah budaya lokal, maksudnya adalah nilai-nilai yang bersumber dari masyarakat local yang diyakini. Sebagai contoh di masyarakat Jawa, banyak sekali filosofi local yang tertuang di dalam kata-kata bijak penuh makna. Meskipun sekedar kata-kata namun menghujam ke dalam hati sanubari orang jawa yang masih memegang teguh prinsip-prinsip filosofis tersebut. Sebagai contoh, kata-kata bijak “Ngundhuh wohing pakarti”. Kata-kata bijak ini memiliki makna bahwa setiap manusia akan menanggung akibat dari perbuatannya sendiri, baik maupun buruk. Meski kata bijak ini berasal dari filosofi jawa akan tetapi memiliki makna universal dan diakui oleh manusia. Anak didik perlu dikenalkan nilai-nilai luhur yang bersumber dari keyakinan masyarakat di sekitarnya yang merupakan dasar filosofis dalam bersikap dan berperilaku. Guru dapat mengenalkan nilai-nilai ini saat pembelajaran online.

Pergeseran ke Nilai Budi Pekerti Online

Setelah pendalaman materi budi pekerti yang bersumber dari nilai-nilai agama dan budaya local, dalam mendownload budi pekerti dan mengcopy-paste karakter, guru dan orangtua dapat melakukan pergeseran ke nilai budi pekerti online. Pada saat pembelajaran online, nilai kejujuran, kedisiplinan, ketekunan dan tanggung jawab dapat dilihat saat anak memegang gadget. Nilai budi pekerti yang sebelumnya dapat dilihat dalam perilaku keseharian berganti dengan dilihat pada saat online dengan gadget.

Bagi orangtua, karakter dan budi pekerti anak dapat dilihat dari konten yang dibuka, keaktifan dalam mengikuti pembelajaran online, bagaimana sikap saat video call, saat mengerjakan tugas, saat mereka berkomentar di media social, saat mereka mengakses game dan juga kejujuran mereka saat ditanyakan oleh orangtua. Oleh karena itu guru harus bekerjasama dengan orangtua untuk mengetahui sikap anak saat menggunakan gadget. Untuk selanjutnya guru dan orangtua dengan diketahui oleh siswa dapat merumuskan kesepakatan Bersama, merumuskan aturan-aturan dalam menggunakan gadget dan dalam pelaksanaan pembelajaran online. Dengan aturan itu, pembelajaran online dapat dilaksanakan dengan baik. Selain itu, guru dapat membuat konten-konten pada aplikasi yang viral dan disukai oleh anak. Aplikasi yang menyediakan konten-konten yang akhirnya viral saat ini justru diisi dengan hal-hal yang kurang baik dan kurang bermanfaat meskipun menghibur. Disinilah guru dapat berperan memasukkan konten-konten budi pekerti pada aplikasi yang populer. Masih ingat bagaimana seorang ibu bergoyang-goyang, menari
yang kurang sopan menggunakan aplikasi tiktok yang kemudian viral ditiru banyak orang? Begitulah, guru tidak perlu menghindari aplikasi itu, tetapi justru guru memanfaatkan aplikasi itu untuk mengajarkan budi pekerti. Guru dituntut untuk kreatif membuat konten-konten budi pekerti yang menghibur, agar aplikasi popular tersebut lebih banyak diisi oleh pembelajaran budi pekerti, bukan malah hal hal yang kurang bermanfaat. Apabila semua guru bergerak untuk membuat konten-konten yang memiliki muatan budi pekerti tentu hingga viral, maka para siswa dapat dengan mudah menemukan dan mendownloadnya melalui aplikasi popular.

Demikianlah, mendownload budi pekerti dan mengcopy-paste karakter merupakan sebuah keniscayaan di masa depan di mana pembelajaran online tidak bisa dihindari lagi. Dengan memperdalam materi budi pekerti dari agama dan budaya local serta menggeser nilai budi pekerti semoga para guru dan orangtua dapat mengubah sikap dan perilaku siswa menuju ke budi pekerti yang luhur atau berakhlak mulia sesuai dengan tujuan utama Pendidikan nasional. Penulis belum mengungkapkan hambatan-hambatan lain, seperti bagaimana dengan efek negatif gadget serta konten-konten terlarang yang masih bisa diakses oleh siswa.

Mengembalikan Konsep Pendidikan KH Ahmad Dahlan

Perjuangan pendidikan pada awal abad ke -20 oleh beliau KH. Ahmad Dahlan telah melahirkan suatu pemahaman yang lebih luas dalam Pendidikan Indonesia. Dikotomi Pendidikan pada masa itu terjadi antara Pendidikan ilmu agama yang terpusat di pondok-pondok pesantren dengan pendidikan ilmu umum yang dilakukan oleh penjajah. KH. Ahmad Dahlan hadir melihat potensi kebaikan dari kedua ilmu tersebut, sehingga beliau kemudian tergerak untuk mencoba menggabungkannya. Pendidikan ilmu agama yang diajarkan secara tradisional digabunglah dengan Pendidikan ilmu umum di sekolah/kelas-kelas. Maka terbentuklah sekolah yang mempelajari ilmu umum dan tetap mempelajari ilmu agama di dalamnya.

Maka KH. Ahmad Dahlan melakukan pembaharuan system kurikulum Pendidikan pada masa itu, yakni selain bertujuan untuk melahirkan manusia yang memiliki keteguhan iman, juga harus memiliki wawasan yang luas dalam bidang ilmu pengetahuan. Sehingga tahun 1912 cara-cara modern dengan menggunakan kurikulum yang jelas, sistem klasikal, adanya papan tulis dan perlengkapan belajar sehingga muncullah sekolah modern dengan tetap memberikan porsi ilmu agama. Sehingga menjadi muslim yang ideal memiliki keimanan yang kuat dan juga ilmu pengetahuan yang luas.

Menurut KH Ahmad Dahlan Pendidikan merupakan upaya strategis untuk menyelamatkan umat islam dari pola berpikir statis ke pemikiran yang dinamis. Pendidikan islam menurut beliau hendaknya diarahkan pada usaha untuk membentuk manusia muslim yang berbudi pekerti luhur,alim dalam agama, luas pandangan dan paham masalah
ilmu keduniaan, serta bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya. Hal ini berarti bahwa Pendidikan islam merupakan upaya pembinaan pribadi muslim sejati yang bertaqwa, baik sebagai ‘abd maupun sebagai khalifah fiil ‘ardhi.

Untuk mencapai tujuan ini proses pendidikan Islam hendaknya mengakomodasi berbagai ilmu pengetahuan baik umum maupun agama, untuk mempertajam daya intelektualitas dan memperkokoh spiritualitas peserta didik. Masih menurut KH. Ahmad Dahlan, upaya ini akan terrelaisasi manakala proses Pendidikan bersifat integral. Proses pendidikan yang demikian pada gilirannya akan mampu menghasilkan alumni “intelektual ulama” yang berkualitas.untuk menciptakan sosok peserta didik yang demikian maka epistemologi Islam hendaknya dijadikan landasan metodologis dalam kurikulum dan bentuk pendidikan yang dilaksanakan.

Yang menjadi perhatian penulis adalah pandangan beliau tentang pendidikan Integralistik. KH Ahmad Dahlan bekerja keras sekuat tenaga mengintegrasikan atau paling tidak mendekatkan dua system filsafat Pendidikan yaitu ilmu agama dan non agama. Cita-cita beliau adalah melahirkan manusia baru yang mampu tampil “ulama intelek” atau “intelek ulama”. Dan inilah yang kemudian menjadi dasar berdirinya sekolah-sekolah Muhammadiyah, yang berusaha untuk mewujudkannya.

Tidak dapat dipungkiri saat ini, dengan metode pengajaran sekolah-sekolah Muhammadiyah -yang terintegrasi- telah melahirkan tokoh-tokoh intelektual muslim yang tidak sedikit. Namun Konsep integrasi ilmu agama dan non agama ini semakin hari semakin berkembang sehingga sampai saat ini belum ditemukan pengintegrasian tersebut secara jelas. Pembelajaran di sekolah-sekolah dengan begitu banyak mata pelajaran saat ini justru cevderung memisahkan antara mata pelajaran umum dan agama. Sehingga proses integrasi yang seperti apa yang ideal sampai saat ini belum dilaksanakan. Karena memang dapat diketahui bahwa mata pelajaran di sekolah sekarang terpisah-pisah antara agama dan non-agama.

Kenyataan bahwa integrasi ilmu pengetahuan yang di sekolah termaktub dalam mata pelajaran masih memisahkan antara agama dan non agama. Dan ini perlu terus dikaji bagaimana integrasi yang tepat dan ideal dalam Pendidikan masa kini. Karena muncul pemahaman Mapel Agama saat ini seperti dikesampingkan, dianggap tidak terlalu penting dibandingkan dengan ilmu-ilmu umum. Padahal apabila kemudian kita selaraskan, ternyata semua ilmu umum ini dapat diintegrasikan dengan ilmu agama, paling tidak dengan dalil/ayat-ayat Al-Qur’an yang bisa menjadi dasar setiap materi ilmu umum. Dengan demikian kajian terhadap integrasi ilmu pengetahuan dan ilmu agama ini dapat dilanjutkan sesuai dengan tuntutan zaman sebagaimana cita-cita KH. Ahmad Dahlan yang sudah dikemukakan diatas. Demikian mudah-mudahan kita dapat meneruska perjuangan beliau mewujudkan ulama yang intelek atau intelek yang ulama. Aamiin.

Bantul, 21 Juli 2022