Mendownload Budi Pekerti, Mengcopy-paste Karakter Mengkritisi Pembelajaran PAI-BP Secara Online (Bagian 1)

*Oleh: Slamet Hadi Riyanto

(Mahasiswa Prodi PAI STAI Muhammadiyah Klaten)

Apa yang terbersit dalam pikiran anda ketika membaca judul di atas? Aneh, norak, mustahil, atau mengada-ada? Sepanjang pengamatan penulis, kata mendownload dan mengcopy-paste menjadi sangat populer dan hampir-hampir setiap saat lekat dengan kehidupan saat ini. Sementara sebagai pendidik, tentu saja kita tak lepas dari pendidikan budi pekerti dan penanaman karakter siswa-siswinya. Dengan adanya pembelajaran yang dilakukan secara online, rangkaian kata pada judul diatas selalu menggelitik pikiran penulis. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah bisa budi pekerti bisa didownload dan dicopy-paste?

Beberapa waktu lalu kita dihadapkan dengan situasi yang benar-benar baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pandemi Covid -19 ini telah mengubah tatanan kehidupan manusia di berbagai
sendinya. Termasuk di dunia pendidikan, para guru, para siswa dan orangtua mau tidak mau dituntut untuk menyesuaikan dengan keadaan, sehingga pembelajaran dilakukan dengan system pembelajaran Jarak Jauh atau daring/online. Perubahan ke pembelajaran daring ini terasa lebih cepat datangnya, meskipun sebelumnya sudah diprediksi akan terjadi.

Semua kemudian menjadi sibuk mempersiapkan segala sesuatu
untuk pelaksanaan pembelajaran daring ini. Mulai dari menyiapkan sarana prasarana berupa handphone ataupun laptop, lengkap dengan kuota dan jaringan internetnya. Kemudian mulai mengaktifkan akun media sosial serta belajar menggunakan aplikasi-aplikasi video conference. Para guru sibuk membuat materi pembelajaran, mulai dari presentasi, membuat video, merekam dan mengunggah ke youtube maupun ke akun media sosial. Siswa dengan orangtua pun demikian, sibuk dengan mengupload tugas-tugas, dan video conference. Pembelajaran online justru terasa menyibukkan.

Dalam pelaksanaan pembelajaran online ini, materi-materi pelajaran dapat disampaikan dengan berbagai bentuknya. Meski terbatas, guru tetap dapat melakukan variasi bentuk pembelajaran terutama untuk ranah pengetahuan. Kendala yang muncul biasanya pada masalah kemampuan perangkat, ketersediaan kuota, sinyal internet, komunikasi satu arah dan kemampuan pengguna dalam memaksimalkan perangkat. Banyak yang kemudian mengeluhkan adanya kendala-kendala tersebut, dan seakan terlupakan esensi dari sebuah pendidikan, yaitu penanaman karakter dan budi pekerti kepada para siswa.

Pembelajaran budi pekerti dengan berbagai bentuknya sudah masuk dalam kurikulum nasional. Pengalaman penulis pada saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar ada mata pelajaran budi pekerti dan ada juga Pendidikan Moral Pancasila. Hingga masa reformasi, sejak diberlakukannya kurikulum 2013, pembelajaran budi pekerti masuk ke
dalam mata pelajran Pendidikan Agama. Dan pada kurikulum ini secara eksplisit mencakup tiga ranah Pendidikan yaitu pengetahuan, sikap dan keterampilan. Ranah sikap inilah pada hakikatnya menjadi ruh dalam proses Pendidikan budi pekerti dan penanaman karakter. Sebagaimana tertuang dalam tujuan Pendidikan Nasional, “mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu… dst”. Bahkan di Undang-undang tersebut, budi pekerti disebutkan lebih jelas dengan menggunakan kata akhlak mulia, inilah goal dari seluruh proses pendidikan yang sesungguhnya.

Sebelum pandemi, pembelajaran budi pekerti -baca:akhlak mulia (Penulis memilih penggunaan kata budi pekerti daripada akhlak mulia karena kata ini lebih umum dan popular, meskipun sebenarnya lebih pas menggunakan kata akhlak mulia.) dan penanaman karakter sudah menjadi tantangan tersendiri bagi seorang pendidik. Di mana pengaruh keluarga, lingkungan, media dan perkembangan teknologi sangat menentukan keberhasilan Pendidikan tersebut. Mulai merebaknya pemakaian ponsel dan perkembangan media sosial yang bebas mengakibatkan Pendidikan budi pekerti ini menjadi sesuatu yang sulit. Di masa pandemi, dengan system pembelajaran online memperbesar tantangan dalam mengajarkan budi pekerti.

Bagaimana tidak, budi pekerti merupakan pelajaran yang tidak sekadar pengetahuan, akan tetapi perlu dipraktekkan dalam bentuk sikap kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada dua hal yang dapat dilakukan para guru untuk dapat mengajarkan budi pekerti, yaitu keteladanan dan pembiasaan. Setelah para siswa diajarkan untuk mengetahui sikap-sikap yang sebaiknya dilakukan dalam menghadapi suatu kejadian, maka selanjutnya perlu diberikan contoh keteladanan dari para guru, sehingga kemudian menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi karakter yang tertanam dalam diri siswa. Jika demikian, bagaimana proses pembelajaran seperti ini dapat dilakukan secara online?

Sebelum membahas tentang pembelajaran budi pekerti secara
online, perlu kita memahami kompetensi sikap dan perilaku akhlak mulia. Sebagaimana dalam kurikulum 2013 sikap-sikap tersebut terbagi menjadi sikap spiritual yang merupakan kompetensi Inti satu (KI 1) yang berupa ketaatan beribadah, berdoa, toleransi dan bersyukur. Sikap berikutnya sikap social yang merupakan kompetensi inti dua (KI 2) yang terdiri dari sikap jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli dan
percaya diri.

Guru dapat memulai dengan menjelaskan pengertian tentang sikap-sikap tersebut kepada sisiwa melalui ceramah, rekaman video, slide presentasi yang diupload melalui youtube atau media sosial. Selanjutnya guru biasanya memberi tugas menuliskan pengalaman ataupun melakukan praktek sikap dengan orangtua di rumah, kemudian siswa mengumpulkan file tugas berupa tulisan maupun rekamannya kepada guru untuk dilakukan penilaian. Seperti itulah secara umum
pelaksanaan pembelajaran budi pekerti secara online. Tentu saja pembelajaran seperti ini tidak mengena dan membosankan.